Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Semangat

Kabut masih pekat berselimut Derap yang berat membuat tanya terungkap "Sepertinya kau tak bersemangat, nak?" "Duduklah saja", lanjutnya "Tidak, aku bingung di mana jurnal itu kusimpan", sahutku Ingatanku gelap Bias mata memecah reruang lalu tak tertembus jua Perjalanan tak bisa dihentikan Bahkan langkah ini baru kan kumulai OYa, 150719

Berdebat Denganmu

Tatapku berat mengalihkan fokus Seperti tertahan menyimpan beban Otakku tertumpuk berjuta kata Tak satupun mampu terungkap Di luar memang bising Lelaju kendaran para pemudik Berseliweran seperti itu pulalah dalam jiwaku Jalannya mengarah ingin kembali ke beberapa halaman Kita, Berdebat panjang menyoal lalu dan sekarang Pun tentang masa depan Tiap kalimat tertuang panjang, tak jarang hanya anggukan Halaman ini sangatlah berkesan Meski menyiksa kelopak mata Membuat bising di tengah persiapan Meruntuhkan sesaraf harapan Hmmm... Ini tentang pulang jua Berdebat denganmu itulah Sesaat kesal yang menjadi rindu Ya, membuatku benar rindu dan takut kehilangan OYa, 13:04 13:06

Penghujung BulanMu

Berjalanlah surya ke ufuk barat Beristirahatlah ia dari jangkauan kami Memperkenankan rembulan bersinar Pada masa yang kan berganti jua Gegas kubersemangat tuk habiskan malam ini di rumahMu Kutak sendiri, bersama banyak ia yang berharap kemuliaanMu Memilih posisi terbaik Mencari tempat ternyaman Detik berlaju lambat Setiap kali kulihat mereka seakan tak bersemangat Hmm ku mengumpat? Berlalulah.. Padahal niatku meraih rahmat Semilir menyusup perselahan dinding Bertiup merajuk kelopak mata tuk menutup Padahal bergaya mu siap terjaga hingga syuruq tiba Belum sampai sepertigaMu ku sudah resah saja Kutatap lagi ruas jari dan potongan kertas Ah, untuk memujiMu saja kumenghitung-hitung  Pun merasa tak ada sampainya Padahal Kau Yang Maha Penghitung ni'matMu takkan terhitung Harusnya kumalu waktuMu akan Kau ambil lagi Kesempatanku kan berkurang lagi  Tapi tak serius dan tak maksimal ku manfaatkan lagi Padahal, Kau sudah ber...

Topeng

Sekujur tubuh yang terbalut kain Bernyanyi berdendang tanpa nada Tertawa riang padahal tiada canda Bersedih muram sekadar kenang suka Ucap tertentang pikir Berpura pada taunya Berkilah pada bodohnya Ingin asyik pada gaulnya Ingin akrab pada cakpanya Tapi, ternyata ia berpura Dengan topengnya --Jadilah otentik, 30052019

Laju Lambat

Aku hanya duduk di sini Pada kursi yang biru Bersandar jendela sambil menikmati laju Tadi hujan, begitu deras saat kutuju kursi ini Kemudian kubergegas tak peduli kuyup Kurebahkan badan dan mengangkat kaki Sampingku lengang kuberbangga hati Sessekali kusaksikan jalanan Dan ternyata terang Tak ada genangan atau sekedar jejak hujan Laju ini terasa cepat Tak ada lambat Kulirik masa, ternyata tak hemat Lalu kusaksikan jalan, lagi Tetiba kuteringat di sana Musim yang sama.. Penuh hiruk Dedaun wangi tak ada suara namun bergejolak Laju lambat Pulang, 19022019

Lagi menunggu

Dalam deras ku berdiri. Beranjak atau tidak, tetap terguyur. Memandangi satu, satu, persatu si roda dua dan roda empat pergi. Ah. . Aku kembali menunggu. Bosan dalam setiap hari. Yang berlalu bersama menanti. Ah. . Semua tak pasti. Haruskah tetap berdiri? Perlukah berdiri lagi? Cisaat, 2011 Aku; yang pernah merasa jenuh utk Menunggu

Pernahkah Kau...

Pernahkah kau merasa Sakit terlampau sakit Hingga tak mampu lagi Mendefinisikan sakit Pernahkah kau merasa Ingin menangis Tapi kau tak bisa menangis Karena sakitmu terlampau sakit Pernahkah kau merasa Sakit terlampau sakit Kau pun ingin menjerit Tapi tak ada suara selain kau mengadu Pernahkah kau merasa Ingin bergerak Tapi kau tak bisa menggeliat Karena sakitmu terlampau sakit --- Bersyukurlah di kala suka dan duka, Robbana dzolamnaa anfusanaa. 23/1/19 00:37 ---

MencariMu dalam Gelapku

Selamat malam kasihku…. Jam memang menunjukkan semakin waktunyaku larut dalam peristirahatan malam Merebahkan segenap harapan bahwa fisikkupun butuh bermanja.. Sudah hamper di senin ke enam aku di sini Dengan segala emosi dan juga mimpi-mimpi Tahukah kau yang kudapati? Aku bingung apa sebenarnya yang kucari dan yang sudah kutemui Aku yakini namun tak ada yang pasti Kasihku… Kurasa semakin aku menjauhimu Di setiap henyak dan juga nafas yang terhembus Larut di anatara bkebersamaan kukatakan Tak kusesali suka dengannya Namun hikmahnya tak kunjung aku peras Lampaulah basi dengan peluh itu Kasihku… Rindu ingin berjumpa denganmu Sekedar bersua bahwa kau akan ingatkanku tentang jalan itu Bantulah aku untuk sekedar mengeja Meski katanya kumampu membaca Kasihku… Dengar dan dekapkan telingamu pada palung jiwa ini Aku sungguh mencintamu jauh sedari kukenali ini Memujakan rahasia ini Terlenapun tak mau lagi aku ini       ...
Gambar
Mampukah Aku Bertahan? Melodi mengalun merdu di antara tuts dan baris dawai Bukan tanpa pengiring dia bersuara Satu demi satu mengeras-lembutkan suasana Menari-goda ruang dengar penjaga Sesyair lagu memasuki nenada irama Ah, elok bersamanya beriring Laju apaadanya partitur Tak meraung cukup menepi dalam hati Tak tahan rasa sehanya mengagumi Pecahan karya ingin memuja-muji Bilakah beradu pandang dengannya nanti Lalu kuhantar seikat bunga sebagai bukti Hai, nyatanya tak dapat begitu Ada jarak yang sejati harus memisah Ruang tabu batas semestinya Menjadi layak usah dipungkiri Aku cukup menikmati lelagu Sampai berlalu sudah tentu Biar semua indah pada batas waktu Pepatah bijak katanya begitu Kapankah dan mampukahku? Mungkin ketika aku mulai belajar menganyam nada pada instrumen Mungkin pula ketika aku bersikap kuat tak lewatkan setiap dinamika Yaa, mungkin saat itu benar-benar saat itu Sukabumi, November 2014

Puisi Saat Wisuda Lalu. . .

Riak masih terasa sendu justru terasa  Bunga-bunga masa depan tumbuh bersama ilalang  Samar.. kupandang  Meski pasangan bola mata kupinjam Aroma sedap merasuk ruang dengar penciuman  Membawa semilir..  Rindu akannya jua jumpaiNya  Alun lembut wujud diriNya  Tawadlu merdu refleksikannya  Sahaja kain balutannya   Aku.. Terkadang merasa hampa  Kala pundak ini 'nggondol' kantung  Beirisi tumpuk kertas salinan, helai catan-catatan badal  Pun kumpulan pemikiran berjilid,          yang lucunya urung kubaca  Dalih tetap kupahami atasnama kepatuhan   Tak sendiri gerak laju mata kaki Bersama para serdadu yang beragam motifnya  Namun... bias sama mencari cahaya Di jalan serentak lalu aku lupa batang penyangga lampu yang siap ku bawa  Padahal cahayapun belum seberapa  Hingga terjatuh, dan meminjam kuatan tempurung tuk merangkak  ...

nyanyian pena biru

tentang perpisahan dengan teman asrama,,,  Nyanyian Pena Biru Siang ini seperti berisyaratlah sang mentari Terang yang tak begitu hangat Seri embun yang mengelus dedaun tak begitu mewangi jua pagi tadi Lah, harus pulakah kudengar angin Bisik mesranya menyentuh ruang imaji  Berucap dia kan segera pergi Tak kurasa senja menyapa Begitu singkat hari ini terasa Masih kuingat tatap pertama di gedung megah ini Ku tengadah atap langitnya, ku sorot setiap belok lorongnya Ku jiwai rasa merdu sayup gemuruh penghuninya  Tempat ini . . . Bagian arti bagian alur cerita bagian isi dalam sosok payah ini Biar.. biar . . . Kunikmati sejenak Di atas bak ikan tawar yang waktu kutercebur di perayaan kelahiranku Ya, yang dekat pasar mini itu Seperti kulihat aku yang lugu nan pemalu Kulihat.. Sekali kutanyakan ruang apa ini  Lalu menerka bacaan apa ini Atau sekedar mencari perhatian, lalu berapi emosi Kulihat aku berbeda, denganmu, dia juga mereka Tapi di sini k...

Lagi, Menunggu

Dalam deras ku berdiri. Beranjak atau tidak, tetap terguyur. Memandangi satu, satu, persatu si roda dua dan roda empat pergi. Ah. . Aku kembali menunggu. Bosan dalam setiap hari. Yang berlalu bersama menanti. Ah. . Semua tak pasti. Haruskah tetap berdiri? Perlukah berdiri lagi?