Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

Baru Aku Tahu Di Wisuda

Hingar bingar hari wisuda. Senin yang dinanti pasca sidang skripsi. Ketukan palu pak ketua. Lantunan ayat suci sang peqori. Duhai.. Hari yang dinanti oleh mereka pengarung lautan ilmu sejak 4tahun lalu.. Deg-deg-deg.. Sesaat sebelum anting-anting kan dialihkan. Bibir tak enggan terangkat bahagia. Jari jemari d atas telapak tangan yg beradu. Gemuruh tawa bangga mereka. Nyanyian rampak mengiring. Melengkapi bahagia senin kemarin. Seketika mereka tersedak. Senyum tersungging bahagia.. Menjadi senyum terurai haru.. Dia.. Sahabat yang lahiriah tak sesempurna kita. Menuai syair indah, lagu syahdu sang penyanyi. "Wahai.. Pemilik nyawaku.. Betapa lemah diriku ini".. Ruang sidang bertaBur haru.. Suaranya menyatukan keramaian menjadi keheningan. Terhenti, kegiatan mereka.. Terfokus padanya. Kebanggaan, karna mereka meraih bersama orang-orang luar biasa. Pun kita berurai air mata bangga.. Esok kan kita raih kakak.. Pun semangat dari mereka, "lahiriah usahkau membat...

Siang, geram..

Macet! Carut marut d jalan aspal. Panas. Saya ingin di depan. Sana! Jika tak mau ku usik! Supir angkot, Tukang Ojeg, Polisi, Pejalan Kaki, Anda, pun Saya. Peluh, klakson, bising. Argh!! Geram. Wajahmu jalan, d terik siang!

Walau..

Walau Ayah Tenaga Pembantu.. "Nak, ayah kan pergi pagi ini dn mungkin hingga larut nanti, doakan ayah ya sayang",kata ayah sembari mengelus-elus kepala anaknya Anak itu tersenyum.. Dan berkata,"iya ayah.. Ananda doakan ayah dapat menyelesaikan pekerjaan ayah hari ini,dn ayah tetap dalam lindungan Allah". "Trimakasih nak!",sahut ayah.. "Nak, bolehkah ayah bertanya suatu hal?",lanjut ayah.. "Tentu boleh ayah..",jawab anak "APakah engkau malu ayah seperti ini, seorang ayah yg hanya tenaga pembantu?".kata ayah, anak itupun menjawab, "tentu tidak ayah! Ananda bangga akan ayah seperti engkau, ananda lahir d antara kehangatan bunda dan ayah yg selalu setia kepadaku, ayah selalu hadir kala kegetiran takut hampiriku, ananda bahagia ayah.. Walau bukan limpahan harta tak kau beri untukku, tapi limpahan kasih kau beri untukku.. Ananda bahagia ayah, walau ananda tak kunjung kau beri materi seperti yg slalu ananda ingini sbgaman...

awal cerita...

Gambar
Kalo aja Pak Dosen gak “maksa” kayanya tak akan saya tulis hingga detik ini -walau sebenarnya ingin- alur-alur di antara perjalanan hidup saya… beliau inginnya kami tulis yang dikasih judul “MY WISH”…biar lebih gimana gitu… Berkata tentang harapan, berkata tentang kehidupan… dan saat berkata tentang kehidupan pasti berawal dari kelahiran… so kita starting sejak saat lahir… ☺ Saya lahir 12 Januari Tujuh belas tahun nyaris delapan belas tahun yang lalu, dari bunda yang bernama Ibu Enung Faridah, dan ayah yang bernama Bapak Uju Junaedi.. (Kalau dilihat-lihat namaku mirip nama ibuku…) Tapi, saya ingin nama ayah pun ada di bagian nama saya, saya tambah deh jadi… Neng Awalia Farida Junaedi, kadang saya add juga nama para tokoh sastrawan nasional di ujung nama saya..hehe illegal tapi maksudnya ng’fans dan berharap bisa seperti beliau-beliau (udah singgung soal Wishs.he) seperti Taufik Ismail, Chairil Anwar, D. Zawawi Imron. (He..agak panjang juga tentang nama. Lanjut ke yang lain ah..) Hi...

Keramat namun tersia

Dalam merdeka bangsaku Genggaman hartamu Tetesan darah dari aliran tubuh-tubuh Dan pinjaman nyawa Penciptamu, wahai para pendahulu Kalian sumbangkan untuk kebahagiaan kami masa kini 17 Agusuts pengkeramatan hari bangsa ini 66 tahun tanpa jajahan fisik sang munafik Pengangsaan Timur 56 persaksian bisu sang Bumi Merdeka! Merdeka!! Merdeka!!! Sejak dirimu terlahir bertahun berjuang demi pengakuan Harapan itu ada, cita-cita yang menggelayut benak pendirimu itu ada Angan yang tertular ke setiap jiwa muda itu ada Asa yang mengembung, meraksuk, menjulur hingga tubuh kami itu ada “Melindungi, Memajukan, Mencerdaskan serta Melaksanakan” 66 tahun tanpa jajahan badan sang pembawa kemiskinan Usia yang kian tua Renta nunbahagia menyambut Namun makna keramatmu, semakin tersia Hidupmu… Balitamu…barulah merangkak, Usia kanakmu…barulah bermain, Remajamu…barulah kau mencoba-coba Dewasamu…kau tahu kebahagiaan!! Namun ternyata semu kau tanam Kini… tuamu Wahai Pertiwi yang di atas buymimu tertancap Me...

Gubug reot hampir merosot

Berjuta pasang mata Menyaksikan pertiwi kelaparan Tapi… perutnya mual karena dipaksa untuk mengeluarkan makanan Hingga akhirnya ia memuntahkan isi perutnya Yang panas dan mengandung gas methan Berjuta pasang mata Menyaksikan banyu yang jengah melihat kita Tak pernah menjaga pertiwi Pun tak pernah memandikannya saat hujan Karna terhalang beton Berjuta pasang mata Menyaksikan pertiwiku kembali menangis Paku bumi itu mengeluarkan bola api Sehingga saudaraku terbakar Kami semuanya pun berubah Pertiwiku nan asri jadi antahberantah Tawa itu menjadi tangis yang tak henti Kekayaan itu menjadi tak berarti Kaya miskin tua mudapun bercampur Tinggal dan hidup berserakan Bak sampah yang slama ini mereka buang Tapi di metropolitan sana, induk kota pertiwiku Mereka sibuk membicarakan tempat sejuk ladang KKN Oh... sungguh Pertiwiku ini Hanya gubug reod yang hampir merosot  (MAN Cibadak, tes sastra Indon esia)

Siapakah Pahlawan Bangsa Sejati itu?

Siapakah Pahlawan Bangsa Sejati itu? Apakah mereka yang telah melahirkan, menyusui, dan merawat para penerus bangsa? Tapi setiap hari memarahinya! Mungkin mereka yang setiap pagi, siang, sore, malam, hingga pagi kembali mencarikan nafkah untuk para penerus bangsa? Tapi setiap Hari mengeluh! Atau mungkin mereka yang berjuang hingga menghabiskan tenaga, harta benda, jiwa bahkan nyawa mereka untuk kemerdekaan para penerus bangsanya? Tapi sering putus Asa! Oh…mungkin mereka yang setiap panas, hujan, memberikan ilmu mereka untuk para penerus bangsa? Tapi selalu ingin diikuti semua maunya! Oh ya… mereka yang menyampaikan berita, menyampaikan amanah, atau yang berjuang mengharumkan nama bangsa? Tapi ia sering merasa kelelahan! Mungkinkah mereka yang penegak dan menegakkan keadilan? Tapi merekapun harus diadili? Entahlah … Siapa pahlawan bangsa sejati itu????? Ketika bangsa ini tengah berusaha bangkit setelah dijajah para koloni Mereka lahirkan, rawat, didik para penerus bangsa Seh...

Awal yang Ke Dua

Gambar
 Bismillahirrahmaannirrahiim...   Kami yang hidup di hari ini Kami yang berangan di masa depan yang akan tinggal di singgasana yang berhiaskan bola lampu berwarna putih di sekeliling serta isinya… Kami yang berangan di masa depan Karena kami adalah masa depan Yang harus mampu memasang bola lampu berwarna putih itu dan tak biarkan satupun bola lampu hitam terlihat… Tapi bagaimanakah caranya? Kami yang hidup hari ini Hanyalah tinggal di gubuk yang tak bercahaya Tapi… kami berangan di masa depan Dan kami adalah masa depan Kami harus mempunyai titik masa depan! Ya… dengan sebuah titik masa depan Yaitu sinar surya di antara gulitanya gubuk ini Lihat! Lihat! Lihatlah! Secerca sinar surya itu nampak dari pori-pori atap gubuk itu Kita akan meraihnya… Dan kita bangun gubuk ini menjadi singgasana dengan bola lampu putih sampai ke tepian singgasana itu… Dan kami adalah masa depan Dengan kenyataan tanpa angan Tapi… mengapa begitu sulit? Begitu sulit kami dapatkan sinar surya yang lebi...