Awal yang Ke Dua
Bismillahirrahmaannirrahiim...
Kami yang hidup di hari ini
Kami yang berangan di masa depan yang akan tinggal di singgasana yang berhiaskan bola lampu
berwarna putih di sekeliling serta isinya…
Kami yang berangan di masa depan
Karena kami adalah masa depan
Yang harus mampu memasang bola lampu berwarna putih itu dan tak biarkan satupun bola
lampu hitam terlihat…
Tapi bagaimanakah caranya?
Kami yang hidup hari ini
Hanyalah tinggal di gubuk yang tak bercahaya
Tapi… kami berangan di masa depan
Dan kami adalah masa depan
Kami harus mempunyai titik masa depan!
Ya… dengan sebuah titik masa depan
Yaitu sinar surya di antara gulitanya gubuk ini
Lihat! Lihat! Lihatlah!
Secerca sinar surya itu nampak dari pori-pori atap gubuk itu
Kita akan meraihnya…
Dan kita bangun gubuk ini menjadi singgasana dengan bola lampu putih sampai ke tepian singgasana itu…
Dan kami adalah masa depan
Dengan kenyataan tanpa angan
Tapi… mengapa begitu sulit?
Begitu sulit kami dapatkan sinar surya yang lebih besar bahkan sempurna?
Apakah karena sinar surya itu adalah mutiara dalam kerang di dasar lautan?
Sehingga hanya para penyelam yang mampu meraihnya?
Padahal, bukankah calon dan tuan tanah itu menjanjikan kita mendapat sinar surya itu dengan cuma-cuma?
Sehingga tak sebahagian dari kami yang wujudkan angan di masa depan
Karena semua dari kami merupakan masa depan
Bukankah seperti yang dicita-citakan?
Semua penghuni gubuk ini harus mendapatkan sinar surya sehingga tidak membeku dan mampu
menjadikan gubuk ini menjadi singgasana itu?
Mungkinkah… itu memang sebatas membuang angin?
Kita harus segera mengadu kepada Sang Pemilik Surya
Melalui utusan-Nya kita harus medapat sinar surya itu walau ke negeri manapun
Tapi Tuan tanah tidak membantu kami, bahkan membiarkan kami tetap dalam gubuk ini…
Tidak! Jangan tergesa-gesa
Tuhan tidak akan merubah suatu kaum jika kaum itu tidak merubahnya!
Mungkin mereka hanya mampu membuang angin
Tapi kita harus tetap meraih sinar surya itu dengan cara apapun!
Walau gelimpangan darah kita tumpah
Jangan biarkan diri kita menjadi sampah yang terhempas angin – angin itu!
Ingatkah lontaran Ki Hajar Dewantara?
“Tut Wuri Handayani”
Kita harus mengikutinya dari belakang!
Walau di antara angus yang tiada berapi dan dengan angin yang dibuang tuan tanah kini
Karena setelah kesulitan ada kemudahan!
Mari kita raih angan di masa depan
Karena kita adalah masa depan
Sehingga… gubuk tak bercahaya… menjadi singgasana… dengan bola lampu berwarna putih… yang bertaburan……
Mei 2010
Komentar
Posting Komentar