Gubug reot hampir merosot

Berjuta pasang mata
Menyaksikan pertiwi kelaparan
Tapi… perutnya mual karena dipaksa untuk mengeluarkan makanan
Hingga akhirnya ia memuntahkan isi perutnya
Yang panas dan mengandung gas methan
Berjuta pasang mata
Menyaksikan banyu yang jengah melihat kita
Tak pernah menjaga pertiwi
Pun tak pernah memandikannya saat hujan
Karna terhalang beton
Berjuta pasang mata
Menyaksikan pertiwiku kembali menangis
Paku bumi itu mengeluarkan bola api
Sehingga saudaraku terbakar
Kami semuanya pun berubah
Pertiwiku nan asri jadi antahberantah
Tawa itu menjadi tangis yang tak henti
Kekayaan itu menjadi tak berarti
Kaya miskin tua mudapun bercampur
Tinggal dan hidup berserakan
Bak sampah yang slama ini mereka buang
Tapi di metropolitan sana, induk kota pertiwiku
Mereka sibuk membicarakan tempat sejuk ladang KKN
Oh... sungguh
Pertiwiku ini
Hanya gubug reod yang hampir merosot 

(MAN Cibadak, tes sastra Indonesia)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagi menunggu

MencariMu dalam Gelapku