Postingan

Menampilkan postingan dari 2012

Lagi, Menunggu

Dalam deras ku berdiri. Beranjak atau tidak, tetap terguyur. Memandangi satu, satu, persatu si roda dua dan roda empat pergi. Ah. . Aku kembali menunggu. Bosan dalam setiap hari. Yang berlalu bersama menanti. Ah. . Semua tak pasti. Haruskah tetap berdiri? Perlukah berdiri lagi?

galau atau . . ?

Terkadang aku merasa kecemburuanku ini memuncak ketika mereka dg mudah mengungkapkan buah pikiran.. Dan kembang hati mereka.. -lalu aku hanya ingin menangis dalam, dan rasanya aku tak ayal hanya sebuah kesiasiaan untuk hidupku sendiri-.. Aku tak berani untuk katakan, "Pak aku ingin pergi dan pulang sendiri untuk kuliah".. "Bu, berikan aku kepercayaan untuk menyelesaikan tugas rumahku sendiri",, "Pak, Bu, aku ingin belajar membuatmu bangga, juga dengan caraku".. Aku pun tak sampai hati untuk bertanya kepada Dosen, "Pak, bagaimana agarku bisa bertanya?".. Akupun tak berani katakan, "Teman, maukah berteman denganku tanpa 'kepentingan'?" "Teman, apakah mau pergi ke perpus denganku?" "Teman, Aku ingin mengambil piutangku hari kemarin" ah.. rasanya aku malu untuk menanyakan semua hal.... Namun aku hendak sampaikan pada segenap nuraniku, 'berjalanlah dg pikiranmu,jika tak mampu merangkaklah dah...

maaf... aku mulai bingung beri judul..

Bismillahirrohmaanirrohiim Maaf, kupanggil engkau “kang” Dalam pengarungan hidupku, tak kuingkari hadir gemuruh yang memperingatkan bahwa segera akan ada ombak datang, yang semakin mendekat dan semakin mendekat, yang apabila layarku tak cukup kuat maka tenggelamlah aku. Tak ada yang sia, yang Tuhan cipta. Begitupun si buas ombak. Ia-lah yang akan mampu sampaikanku ke tempat di mana aku-kan berlabuh. Dan kemudian, aku panggil kamu “kang” wahai ombak.. Perjalananku menuju pelabuhan di sana telah kumulai, kuberjalan di atas limpahan air penghasil garam itu. Aku tak menyangka begitu banyak yang menyertaiku, sahabat…ikan yang beragam jenis pun indah, bentangan harapan luas sang laut. Tapi, akulah yang perahu nelayanpun lebih kuat dari tubuhku, lebih kokoh dari komponen-komponen yang membangunku. Yang layarku terkadang tak begitu mampu menguatkanku. Akankah aku hanya menggigil ketakutan, ketika gemuruh mengingatkan bahwa akan ada gelombang, akan ada ombak yang aku sendiri tak tau,,a...

kecewanya..

Aku tulis, waktuku bersedih,, kuceritakan tentangku yang tak pernah mampu mengukir senyum di raut wajah ayah dan bunda. Bundaku memanggil,,, berulang kali tapi takkunjung aku mendengarnya, atau tak kunjung aku hiraukan?? Entahlah, aku tak mendengarnya,… “bundamu bersedih sejak di sekolah tadi?”, ungkap kakak… hati semakin takut,, “oh bunda…maafkan akuuuuuuuuuuuu” Masih akan adakah sayangmu untukku,,,, Maaf bunda,,, Lagi aku buatmu kecewa Maaf ayah,,, Lagi aku buatmu kecewa Maaf bunda,,, Lagi yang kuberi kecewa Maaf ayah,,, Lagi yang kuberi kecewa Maaf bunda,,, Lagi yang kuurai kecewa Maaf ayah,,, Lagi yang kuurai kecewa Maaf bunda,,, Lagi kucurah sedih karena kecewa Maaf ayah,,, Lagi kucurah sedih karena kecewa