Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

Gubug reot hampir merosot

Berjuta pasang mata Menyaksikan pertiwi kelaparan Tapi… perutnya mual karena dipaksa untuk mengeluarkan makanan Hingga akhirnya ia memuntahkan isi perutnya Yang panas dan mengandung gas methan Berjuta pasang mata Menyaksikan banyu yang jengah melihat kita Tak pernah menjaga pertiwi Pun tak pernah memandikannya saat hujan Karna terhalang beton Berjuta pasang mata Menyaksikan pertiwiku kembali menangis Paku bumi itu mengeluarkan bola api Sehingga saudaraku terbakar Kami semuanya pun berubah Pertiwiku nan asri jadi antahberantah Tawa itu menjadi tangis yang tak henti Kekayaan itu menjadi tak berarti Kaya miskin tua mudapun bercampur Tinggal dan hidup berserakan Bak sampah yang slama ini mereka buang Tapi di metropolitan sana, induk kota pertiwiku Mereka sibuk membicarakan tempat sejuk ladang KKN Oh... sungguh Pertiwiku ini Hanya gubug reod yang hampir merosot  (MAN Cibadak, tes sastra Indon esia)

Siapakah Pahlawan Bangsa Sejati itu?

Siapakah Pahlawan Bangsa Sejati itu? Apakah mereka yang telah melahirkan, menyusui, dan merawat para penerus bangsa? Tapi setiap hari memarahinya! Mungkin mereka yang setiap pagi, siang, sore, malam, hingga pagi kembali mencarikan nafkah untuk para penerus bangsa? Tapi setiap Hari mengeluh! Atau mungkin mereka yang berjuang hingga menghabiskan tenaga, harta benda, jiwa bahkan nyawa mereka untuk kemerdekaan para penerus bangsanya? Tapi sering putus Asa! Oh…mungkin mereka yang setiap panas, hujan, memberikan ilmu mereka untuk para penerus bangsa? Tapi selalu ingin diikuti semua maunya! Oh ya… mereka yang menyampaikan berita, menyampaikan amanah, atau yang berjuang mengharumkan nama bangsa? Tapi ia sering merasa kelelahan! Mungkinkah mereka yang penegak dan menegakkan keadilan? Tapi merekapun harus diadili? Entahlah … Siapa pahlawan bangsa sejati itu????? Ketika bangsa ini tengah berusaha bangkit setelah dijajah para koloni Mereka lahirkan, rawat, didik para penerus bangsa Seh...

Awal yang Ke Dua

Gambar
 Bismillahirrahmaannirrahiim...   Kami yang hidup di hari ini Kami yang berangan di masa depan yang akan tinggal di singgasana yang berhiaskan bola lampu berwarna putih di sekeliling serta isinya… Kami yang berangan di masa depan Karena kami adalah masa depan Yang harus mampu memasang bola lampu berwarna putih itu dan tak biarkan satupun bola lampu hitam terlihat… Tapi bagaimanakah caranya? Kami yang hidup hari ini Hanyalah tinggal di gubuk yang tak bercahaya Tapi… kami berangan di masa depan Dan kami adalah masa depan Kami harus mempunyai titik masa depan! Ya… dengan sebuah titik masa depan Yaitu sinar surya di antara gulitanya gubuk ini Lihat! Lihat! Lihatlah! Secerca sinar surya itu nampak dari pori-pori atap gubuk itu Kita akan meraihnya… Dan kita bangun gubuk ini menjadi singgasana dengan bola lampu putih sampai ke tepian singgasana itu… Dan kami adalah masa depan Dengan kenyataan tanpa angan Tapi… mengapa begitu sulit? Begitu sulit kami dapatkan sinar surya yang lebi...