maaf... aku mulai bingung beri judul..
Bismillahirrohmaanirrohiim
Maaf, kupanggil engkau “kang”
Dalam pengarungan hidupku, tak kuingkari hadir gemuruh yang memperingatkan bahwa segera akan ada ombak datang, yang semakin mendekat dan semakin mendekat, yang apabila layarku tak cukup kuat maka tenggelamlah aku.
Tak ada yang sia, yang Tuhan cipta. Begitupun si buas ombak. Ia-lah yang akan mampu sampaikanku ke tempat di mana aku-kan berlabuh.
Dan kemudian, aku panggil kamu “kang” wahai ombak..
Perjalananku menuju pelabuhan di sana telah kumulai, kuberjalan di atas limpahan air penghasil garam itu. Aku tak menyangka begitu banyak yang menyertaiku, sahabat…ikan yang beragam jenis pun indah, bentangan harapan luas sang laut.
Tapi, akulah yang perahu nelayanpun lebih kuat dari tubuhku, lebih kokoh dari komponen-komponen yang membangunku. Yang layarku terkadang tak begitu mampu menguatkanku.
Akankah aku hanya menggigil ketakutan, ketika gemuruh mengingatkan bahwa akan ada gelombang, akan ada ombak yang aku sendiri tak tau,,akn menerjang hingga aku tergelam atau akan menyampaikanku pada pelabuhan itu?
Yang kutahu, tak cukup tangguh tubuhku pabila ada terjangan ombak itu, yang kutahu, aku mulai takut dengan perjelananku ini.
Ikan-ikan…jadilah kau sebagai pertolongan Tuhan yang menolongku dengan kau berkumpul dan menahanku pabila ombak itu akan menerjangku. Temanilah aku sampai ke tepian, pabila ombak itu yang mengahantarkanku padaNya, sebagai yang setia yang mengingatkanku kala aku kan berbelok tak menentu.
Wahai engkau yang membentang luas, aku pinta pada Dia yang memilikimu, janganlah engaku sedikitpun surut menyertai perjalananku. Karena engkau pijakanku di sini.
Dan aku tetap, memohon padaNya, “Wahai Sang Pemilikku, Yang Mencipta ikan-ikan indah, Yang Menguasa bentangan luas laut ini, Yang Maha Mengatur kan datangnya gemuruh sebagai awal dinamika gelombang laut, Yang Berkehendak atas apa yang kan terjadi pada layarku.. aku memohon kepadaMu, kehendakilah aku sampai di pelabuhan cintaMu, pabila gemuruh cinta yang menandakan akan datangnya ombak yang ‘kan menerjangku, menenggelamkanku di dalamnya harapan, Mohon kuatkanlah layarku, keimananku akan cinta yang lebih indah nanti kutemui besarnya di pelabuhan cinta-Mu, alihkanlah dengan pertolonganMu juga melalui sahabat-sahabat ikan itu. Apabila harapanku mulai surut sebelum ku samapai di pelabuhan itu… turunkanlah hujan sebagai pembaharu, sebagai penyadaranku terhadapMu..
Dan… apabila ombak itu yang akan menghantarkanku padaMu, kuatkanlah layarku, dan pengailku agar aku tak bertumpu padanya, dan sertakanlah harapan sampaiku di pelabuuhan cintaMu agar aku tetap meyakini hanya cintaMu yang harus kutempuh, dan sertakanlah sahabat-sahabat itu sebagai pengingat kala kau mulai berbelok”.
Maaf, kupanggil engkau “kang”
Dalam pengarungan hidupku, tak kuingkari hadir gemuruh yang memperingatkan bahwa segera akan ada ombak datang, yang semakin mendekat dan semakin mendekat, yang apabila layarku tak cukup kuat maka tenggelamlah aku.
Tak ada yang sia, yang Tuhan cipta. Begitupun si buas ombak. Ia-lah yang akan mampu sampaikanku ke tempat di mana aku-kan berlabuh.
Dan kemudian, aku panggil kamu “kang” wahai ombak..
Perjalananku menuju pelabuhan di sana telah kumulai, kuberjalan di atas limpahan air penghasil garam itu. Aku tak menyangka begitu banyak yang menyertaiku, sahabat…ikan yang beragam jenis pun indah, bentangan harapan luas sang laut.
Tapi, akulah yang perahu nelayanpun lebih kuat dari tubuhku, lebih kokoh dari komponen-komponen yang membangunku. Yang layarku terkadang tak begitu mampu menguatkanku.
Akankah aku hanya menggigil ketakutan, ketika gemuruh mengingatkan bahwa akan ada gelombang, akan ada ombak yang aku sendiri tak tau,,akn menerjang hingga aku tergelam atau akan menyampaikanku pada pelabuhan itu?
Yang kutahu, tak cukup tangguh tubuhku pabila ada terjangan ombak itu, yang kutahu, aku mulai takut dengan perjelananku ini.
Ikan-ikan…jadilah kau sebagai pertolongan Tuhan yang menolongku dengan kau berkumpul dan menahanku pabila ombak itu akan menerjangku. Temanilah aku sampai ke tepian, pabila ombak itu yang mengahantarkanku padaNya, sebagai yang setia yang mengingatkanku kala aku kan berbelok tak menentu.
Wahai engkau yang membentang luas, aku pinta pada Dia yang memilikimu, janganlah engaku sedikitpun surut menyertai perjalananku. Karena engkau pijakanku di sini.
Dan aku tetap, memohon padaNya, “Wahai Sang Pemilikku, Yang Mencipta ikan-ikan indah, Yang Menguasa bentangan luas laut ini, Yang Maha Mengatur kan datangnya gemuruh sebagai awal dinamika gelombang laut, Yang Berkehendak atas apa yang kan terjadi pada layarku.. aku memohon kepadaMu, kehendakilah aku sampai di pelabuhan cintaMu, pabila gemuruh cinta yang menandakan akan datangnya ombak yang ‘kan menerjangku, menenggelamkanku di dalamnya harapan, Mohon kuatkanlah layarku, keimananku akan cinta yang lebih indah nanti kutemui besarnya di pelabuhan cinta-Mu, alihkanlah dengan pertolonganMu juga melalui sahabat-sahabat ikan itu. Apabila harapanku mulai surut sebelum ku samapai di pelabuhan itu… turunkanlah hujan sebagai pembaharu, sebagai penyadaranku terhadapMu..
Dan… apabila ombak itu yang akan menghantarkanku padaMu, kuatkanlah layarku, dan pengailku agar aku tak bertumpu padanya, dan sertakanlah harapan sampaiku di pelabuuhan cintaMu agar aku tetap meyakini hanya cintaMu yang harus kutempuh, dan sertakanlah sahabat-sahabat itu sebagai pengingat kala kau mulai berbelok”.
Komentar
Posting Komentar