Puisi Saat Wisuda Lalu. . .
Riak
masih terasa sendu justru terasa
Bunga-bunga masa depan tumbuh bersama ilalang
Samar.. kupandang
Meski pasangan bola mata kupinjam
Bunga-bunga masa depan tumbuh bersama ilalang
Samar.. kupandang
Meski pasangan bola mata kupinjam
Aroma
sedap merasuk ruang dengar penciuman
Membawa semilir..
Rindu akannya jua jumpaiNya
Alun lembut wujud diriNya
Tawadlu merdu refleksikannya
Sahaja kain balutannya
Aku.. Terkadang merasa hampa
Kala pundak ini 'nggondol' kantung
Beirisi tumpuk kertas salinan, helai catan-catatan badal
Pun kumpulan pemikiran berjilid,
yang lucunya urung kubaca
Dalih tetap kupahami atasnama kepatuhan
Tak sendiri gerak laju mata kaki
Bersama para serdadu yang beragam motifnya
Namun... bias sama mencari cahaya
Di jalan serentak lalu aku lupa batang penyangga lampu yang siap ku bawa
Padahal cahayapun belum seberapa
Hingga terjatuh, dan meminjam kuatan tempurung tuk merangkak
Aku mencari serpihan cahaya
Lantas kulalai...
Terasa.. lelah mewarnai
Seketika bergumulku dalam perubahan
Hendak kuberikan sentuhan arranger biar merdu nyanyian kaisar
Ku obrak-abrik berankas kerajaan lantas kuberikan syarat membukanya
Kusiram rumput pekarangan warga
Kupangkas ilalang di perkebunan
Biar semua berjalan sebagaimana wasiat dalam kitab
Bencana..
"Gusti"..malah dikiranya serdadu ini berkudeta
Hari Ini prasangkapun bertabur metafora di caci pentungan dan gas air mata
Hendak kutangguhkan pencarian ini
Gusti... kuberniat indera ini menemuiMu
Dengan langkah bergelora
Berlebel generasi pelindung tak berkepentingan,
sementara api semangatku adalah hembusan gas hawa nafsu
Aku.. terlena
Cahya yang kubawa tak seberapa
Hampir mati tak bersisa
Penyangga cahya berjatuh tak bisa lagi selamatkan olehku
Betapa aku lupa
Waktu tak lama jua
Masih banyak jalan yang mesti kulalui
Hingga derai hujan henti pula nanti
Gedung-gedung berkacaan banyak tumbuh kini
sekiranya kunumpang berlama pun di sana
Biar sering ku berkaca
Bercermin diri
Sejatinya gelap dalam jalanku ini menjadi pemangku dan penyangga diri mendekat denganNya Hingga Terefleksi sahaja itu
Gusti aku jauhkan cahyaMu berdalih kontrol sosial,
aku hindari anugerahMu berdalih selaraskan..
Lagu dengan chord partitur aku lupa
Surga yang kau janjikan
Mengejar durga yang kuimpikan
Aku tuntut hak sementara lupa kewajiban
Pantas...
Hati ini tak berbuah manis
Rajutan gaun hitam kesahajaan pun sulit diraih
Sepi.. sepi.. Sepi..
Bahkan di antara koaran sang toa kerna aku tak membawaMu
Indah.. Indah..
Yang kuharap Melalui cahya gemerlap di tidur terjagaku
Berlabuh.. menjadi mimpi indah di sampingMu
Mekar di antara masa datang
Meliuk cantik di tepis angin pun merasa tenang
Membawa semilir..
Rindu akannya jua jumpaiNya
Alun lembut wujud diriNya
Tawadlu merdu refleksikannya
Sahaja kain balutannya
Aku.. Terkadang merasa hampa
Kala pundak ini 'nggondol' kantung
Beirisi tumpuk kertas salinan, helai catan-catatan badal
Pun kumpulan pemikiran berjilid,
yang lucunya urung kubaca
Dalih tetap kupahami atasnama kepatuhan
Tak sendiri gerak laju mata kaki
Bersama para serdadu yang beragam motifnya
Namun... bias sama mencari cahaya
Di jalan serentak lalu aku lupa batang penyangga lampu yang siap ku bawa
Padahal cahayapun belum seberapa
Hingga terjatuh, dan meminjam kuatan tempurung tuk merangkak
Aku mencari serpihan cahaya
Lantas kulalai...
Terasa.. lelah mewarnai
Seketika bergumulku dalam perubahan
Hendak kuberikan sentuhan arranger biar merdu nyanyian kaisar
Ku obrak-abrik berankas kerajaan lantas kuberikan syarat membukanya
Kusiram rumput pekarangan warga
Kupangkas ilalang di perkebunan
Biar semua berjalan sebagaimana wasiat dalam kitab
Bencana..
"Gusti"..malah dikiranya serdadu ini berkudeta
Hari Ini prasangkapun bertabur metafora di caci pentungan dan gas air mata
Hendak kutangguhkan pencarian ini
Gusti... kuberniat indera ini menemuiMu
Dengan langkah bergelora
Berlebel generasi pelindung tak berkepentingan,
sementara api semangatku adalah hembusan gas hawa nafsu
Aku.. terlena
Cahya yang kubawa tak seberapa
Hampir mati tak bersisa
Penyangga cahya berjatuh tak bisa lagi selamatkan olehku
Betapa aku lupa
Waktu tak lama jua
Masih banyak jalan yang mesti kulalui
Hingga derai hujan henti pula nanti
Gedung-gedung berkacaan banyak tumbuh kini
sekiranya kunumpang berlama pun di sana
Biar sering ku berkaca
Bercermin diri
Sejatinya gelap dalam jalanku ini menjadi pemangku dan penyangga diri mendekat denganNya Hingga Terefleksi sahaja itu
Gusti aku jauhkan cahyaMu berdalih kontrol sosial,
aku hindari anugerahMu berdalih selaraskan..
Lagu dengan chord partitur aku lupa
Surga yang kau janjikan
Mengejar durga yang kuimpikan
Aku tuntut hak sementara lupa kewajiban
Pantas...
Hati ini tak berbuah manis
Rajutan gaun hitam kesahajaan pun sulit diraih
Sepi.. sepi.. Sepi..
Bahkan di antara koaran sang toa kerna aku tak membawaMu
Indah.. Indah..
Yang kuharap Melalui cahya gemerlap di tidur terjagaku
Berlabuh.. menjadi mimpi indah di sampingMu
Mekar di antara masa datang
Meliuk cantik di tepis angin pun merasa tenang
Komentar
Posting Komentar