nyanyian pena biru
tentang perpisahan dengan teman asrama,,,
Nyanyian Pena Biru
Siang ini seperti berisyaratlah sang mentari
Terang yang tak begitu hangat
Seri embun yang mengelus dedaun tak begitu mewangi jua pagi tadi
Lah, harus pulakah kudengar angin
Bisik mesranya menyentuh ruang imaji
Berucap dia kan segera pergi
Tak kurasa senja menyapa Begitu singkat hari ini terasa
Masih kuingat tatap pertama di gedung megah ini
Ku tengadah atap langitnya, ku sorot setiap belok lorongnya
Ku jiwai rasa merdu sayup gemuruh penghuninya
Tempat ini . . .
Bagian arti bagian alur cerita bagian isi dalam sosok payah ini
Biar.. biar . . .
Kunikmati sejenak
Di atas bak ikan tawar yang waktu kutercebur di perayaan kelahiranku
Ya, yang dekat pasar mini itu
Seperti kulihat aku yang lugu nan pemalu
Kulihat..
Sekali kutanyakan ruang apa ini
Lalu menerka bacaan apa ini
Atau sekedar mencari perhatian, lalu berapi emosi
Kulihat aku berbeda, denganmu, dia juga mereka
Tapi di sini kita bersama dalam kiblat yang sama
Sebaris hujan bergerak ke arahku
Mau tak mau kuharus beranjak
Meninggalkan kotak-kotak musik berlagu riang, resah, rindu yang menyatu
Dan nanti Mungkin tak ada lagi lelaguan riang
Seperti saat kita nanti besi rangka ban yang dipukuli
Hanya tinggal rindu teriak tantang darimu kawan
Tak ada lagi resah akan tantang masalah
Hanya tinggal rindu petuah darimu guru
Malam adalah kepastian
Bukan akhir ataupun tentang perpisahan melainkan awal untuk kita bertemu dalam kerinduan indah dalam esok yang lebih cerah
22 juni 2013, 0:04, o_y@walia
Nyanyian Pena Biru
Siang ini seperti berisyaratlah sang mentari
Terang yang tak begitu hangat
Seri embun yang mengelus dedaun tak begitu mewangi jua pagi tadi
Lah, harus pulakah kudengar angin
Bisik mesranya menyentuh ruang imaji
Berucap dia kan segera pergi
Tak kurasa senja menyapa Begitu singkat hari ini terasa
Masih kuingat tatap pertama di gedung megah ini
Ku tengadah atap langitnya, ku sorot setiap belok lorongnya
Ku jiwai rasa merdu sayup gemuruh penghuninya
Tempat ini . . .
Bagian arti bagian alur cerita bagian isi dalam sosok payah ini
Biar.. biar . . .
Kunikmati sejenak
Di atas bak ikan tawar yang waktu kutercebur di perayaan kelahiranku
Ya, yang dekat pasar mini itu
Seperti kulihat aku yang lugu nan pemalu
Kulihat..
Sekali kutanyakan ruang apa ini
Lalu menerka bacaan apa ini
Atau sekedar mencari perhatian, lalu berapi emosi
Kulihat aku berbeda, denganmu, dia juga mereka
Tapi di sini kita bersama dalam kiblat yang sama
Sebaris hujan bergerak ke arahku
Mau tak mau kuharus beranjak
Meninggalkan kotak-kotak musik berlagu riang, resah, rindu yang menyatu
Dan nanti Mungkin tak ada lagi lelaguan riang
Seperti saat kita nanti besi rangka ban yang dipukuli
Hanya tinggal rindu teriak tantang darimu kawan
Tak ada lagi resah akan tantang masalah
Hanya tinggal rindu petuah darimu guru
Malam adalah kepastian
Bukan akhir ataupun tentang perpisahan melainkan awal untuk kita bertemu dalam kerinduan indah dalam esok yang lebih cerah
22 juni 2013, 0:04, o_y@walia
Komentar
Posting Komentar